Total Tayangan Halaman

radio Blog play or fause

Senin, 14 Maret 2011

SERAMBI CURHAT

ASSALAMU ALAIKUM WR WB.
Berapa banyak manusia yg tengah dilanda musibah.Masalah kesehatan fisik atau masalah rumahtangga atau yang lain-lain...UNGKAPKAN uneg-uneg Anda disini ..nanti akan banyak sobat Majlis yg akan membantu memberi SOLUSI.Semoga bisa membantu ANDA.Amin
 I.RESEP HERBAL
 
1.RESEP MENGOBATI ASAM URAT
 
     Asam Urat adalah penyakit sendi yang berhubungan dengan metabolisme tubuh.Pada umumnya disebabkan oleh karena Ginjal tidak mampu membuang zat asam urat.Zat asam urat tersebut seharusnya dibuang melalui ginjal,tapi ginjal tidak segera membuangnya sehingga bertumpuk dalam darah.Gejala yang timbul seperti kadar asam urat urat melebihi batas normal dan terasa sangat sakit pada tulang sendi.Sendi-sendi yang terserang akan terlihat membengkak,merah,panas,nyeri dikulit,sakit dikepala dan napsu makan menurun.
 
CARA PENANGANAN MELALUI HERBAL   
= Resep 1 ;                                                                                                                                                         
- 15 gram Jahe merah
- 1 jari Kayu manis
- 5 gram Biji pala
- 10 butir Lada
- 200 gram Ubi jalar merah 
- 5 butir Kapulaga
 -5 butir Cengkeh
 
 Cara Membuat jamu ; 
- Semua bahan direbus jadi satu dalam air 1000 cc { antara 7-8 gelas uk kecil}
- Sisa rebusan harus tersisa 500 cc
- Semua air rebusan diminum
- Ubi Jalar yang ikut direbus dimakan setelah meminum jamu
- Lakukan Penanganan tersebut secara Rutin dan setiap akan merebus ramuan diatas,sebaiknya sambil melakukan ;
 
1. Membaca Bismillah...dstnya sambil berserah diri kpd Allah SWT.Ingatlah selalu bahwa segala macam obat hanya sebagai alat/perantara/wasilah,sedangkan yang menyembuhkan hanya Allah SWT.
2. Saat Anda sedang merebus atau tengah menunggui rebusan ramuan,sebaiknya sambil membaca Sholawat kepada Nabi Muhamad Saw seperti membaca "Sholallahu 'alaa Muhammadin " sambil mohon pertolongan Allah SWT dengan mengharap Syafaat Rosul Saw.
3. Ketika Anda akan meminum Air Rebusan ramuan/jamu,sebaiknya Anda membaca Surat Al-Fatihah.Setiap satu ayat minumlah satu teguk,baca ayat kedua minum satu teguk san begitulah seterusnya sapai ayat terakhir air digelas diminum habis.
=================================================================

 
 
 
 




»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 13 Maret 2011

nasihat dari buah hati

Disusun dari berbagai Sumber oleh Tim Selintas Dakwah

Saat Buah Hati Tak Kunjung Hadir


 Wanita yang kini sedang dalam masa penantian yang amat panjang. Manisnya masa-masa awal pernikahan telah ia rasakan, tinggal satu pelengkap kebahagiaan yang belum didapatkannya, yaitu kehadiran sang buah hati. Bulan demi bulan, tahun demi tahun ia dan suaminya jalani. Hingga usia pernikahannya memasuki tahun ke-10, Allah belum juga menganugerahkan buah hati pada mereka berdua. Berbagai upaya telah mereka tempuh, namun apa daya, Sang Penguasa Takdir belum berkenan mengabulkan keinginan mereka.


Satu Bentuk Cobaan
Mungkin masih banyak pasangan suami istri lain yang bernasib serupa seperti Rindang dan suaminya. Bertahun-tahun berkeluarga, namun belum juga dikaruniai momongan. Sangatlah wajar jika manusia senantiasa menyenangi hal-hal yang indah di dunia ini. Karena sudah menjadi tabiat yang ditanamkan Allah kepada manusia bahwa manusia akan cenderung mencintai harta, anak-anak, dan istri. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya ;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِزُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ بِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali-Imran: 14)

Saudariku muslimah, setiap insan di dunia ini tak akan terlepas dari ujian. Dalam surat Al-Baqarah, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya ;


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 155)

Belum mendapatkan momongan meskipun telah lama mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satu bentuk dari berbagai macam bentuk ujian yang Allah berikan pada manusia. Kebanyakan orang mengira, bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Mereka tidak menyadari bahwa melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Sehingga banyak memang yang dapat melalui cobaan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan namun sangat sedikit yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia, hal ini menjadikan manusia lalai saat kesenangan hidup menyapa mereka. Dalam surat Al-Anbiya ayat 35, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,


“…dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kami, kamu akan kembali.”

Juga firman Allah yang artinya ;


“Adapun sebagian manusia apabila diberi ujian oleh Tuhannya yaitu diberi tempat yang mulia dan diberi kenikmatan kepadanya, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakan aku’. Adapun apabila Tuhannya mengujinya dengan membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakan aku.’” (Qs. Al-Fajr: 15-16)

Bagimu wahai para orang tua yang belum dikarunia anak, bersabar adalah kunci dalam masalah ini, karena sabar adalah salah satu jalan datangnya pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:


“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 153)

Hendaknya kita berbaik sangka terhadap takdir Allah. Yakinlah, bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Ingatlah saudariku, tinta takdir telah mengering. Setiap manusia telah dituliskan tentang nasibnya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rezekipun telah ditetapkan, manusia tidak akan meninggal sebelum jatah rizki yang Allah tetapkan baginya habis.

Tidak Saling Menyalahkan
Sebagaimana makhluk hidup yang lain, manusia membutuhkan keturunan untuk mewarisi dan meneruskan hidupnya. Itulah mengapa anak menjadi dambaan setiap keluarga. Anak bagaikan permata dalam kehidupan mereka. Penyejuk mata ketika keletihan menyapa, menjadi tempat berteduh ketika masa senja mulai tiba.
Sekian lama belum dikarunia anak, tentu akan membuat pasangan suami istri risau dan gelisah. Dalam kasus seperti ini, istrilah yang biasanya merasakan beban paling berat. Apalagi ada pandangan bahwa penyebab semua itu adalah dari pihak istri. Ia yang mandul dan tidak bisa melahirkan keturunan. Padahal bukanlah seperti itu. Bukanlah salah istri, karena setiap takdir Allah-lah yang telah menggariskannya. Lagipula, tidak selalu istri yang menjadi penyebabnya, pihak suami sering pula menjadi sebab belum dikaruniainya anak.
Oleh karena itu, tidak saling menyalahkan adalah jalan terbaik dalam menghadapi ujian ini. Hendaknya pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai buah hati saling memberikan dukungan dan nasehat. Saling menasehati untuk bersabar atas takdir yang diberikan Allah. Dengan sikap seperti ini, diharapkan suami dan istri dapat saling menguatkan di tengah badai ujian Allah.

Jangan Lupa Berdoa dan Berusaha
Saat seorang mukmin menghadapi kesulitan dalam hidupnya, semestinya ia tidak berpangku tangan begitu saja tanpa berusaha. Berikhtiarlah. Ambillah sebab-sebab yang dapat menghilangkan kesulitan tersebut selama ikhtiar tersebut dibolehkan syari’at. Seperti halnya mukjizat Nabi Musa, tidaklah Nabi Musa serta merta dapat membelah lautan, melainkan ia harus mengayunkan tongkatnya terlebih dahulu. Atau seperti kisah Maryam ketika mengandung Nabi ‘Isa, untuk mendapatkan makanan (kurma), Allah tidak begitu saja menurunkan makanan tersebut dari langit, melainkan Maryam terlebih dahulu harus menggoyang pohon kurma.

Pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai anak dapat berikhtiar dengan banyak cara, seperti berkonsultasi dengan para ahli, orang yang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan dan ramuan-ramuan, mengkonsumsi makanan-makanan yang dipercaya mampu meningkatkan kesuburan. Memperkaya pengetahuan tentang bagaimana proses terjadinya pembuahan dan fungsi alat reproduksipun termasuk hal yang tidak ada salahnya untuk dicoba.
Yang tidak boleh dilupa adalah doa, tidak selayaknya ditinggalkan. Seorang muslim tidak sepantasnya menyandarkan pada sebab dan usaha, karena semua penentu adalah Allah Sang Pencipta alam raya. Bukankah anak keturunan adalah bagian kecil dari alam raya? Giatlah berdoa agar Allah memberikan anugerah-Nya berupa anak yang mampu menyejukkan mata kita. Sebagaimana kisah Nabi Zakaria ‘alaihi salam yang di usia lanjut belum juga mendapatkan keturunan, ia berdoa:

“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan permohonanku terhadapmu, ya Rabbi, belum pernah tak terkabulkan. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi kenabianku dan mewarisi kenabian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai.’” (Qs. Maryam: 4-6)

Satu lagi yang perlu diingat, wahai saudariku, termasuk di antara bentuk usaha adalah dengan memperbanyak taubat dan beristighfar, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya ;

“…beristighfarlah kepada Rabb-mu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kalian beristighfar) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat atas kalian, juga memberi banyak harta dan anak keturunan…” (Qs. Nuh: 10-12)

Bersabar
Jika sudah gigih berdoa dan berikhtiar dengan berbagai cara namun belum juga mendapatkan keturunan? Maka langkah selanjutnya adalah senantiasa bersabar atas takdir Allah. Yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita. Jangan lupa berdoa seperti doa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Dalam sebuah hadits shahih diceritakan:
Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,;

‘Tidak seorang hambapun yang tertimpa musibah lalu ia mengatakan,
إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Wahai Allah, berikanlah kami pahala dari musibah ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya.”
Kecuali Allah akan memberikan ganjaran pahala karena musibah yang menimpanya dan memberikan ganti yang lebih baik.’
Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku membacanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah memberikan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Saudariku, engkau tidak sendirian. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Wahai muslimah, hendaknya kita mencontoh kesabaran mereka.

Dengan doa dan kesabaran tersebut, semoga kita mampu bertawakal kepada Allah. Selanjutnya dengan begitu, Allah berkenan menganugerahkan kepada kita kesabaran dan rasa syukur. Kita mampu menjadi orang yang bersyukur ketika dikaruniai anak, sementara ketika masih sulit mendapat anak, kita tetap bersabar dan tidak berprasangka buruk kepada Maha Pencipta, termasuk juga ketika mendapatkan anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Waallahu a’lam.


Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. At-Taghaabun:14)

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…” .


Kewajiban Mendidik Anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya” .

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut .

Metode Pendidikan Anak yang Benar

Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia untuk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).”

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.”

Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras untuk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?

Maka di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak.

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa,

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)

Pembinaan Rohani dan Jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (Qs. al-Baqarah: 133)

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah , yang landasannya adalah ibadah kepada Allah SWT semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?
Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Qs. Luqmaan: 13)

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shaleh ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik .

Manfaat dan Pentingnya Pendidikan Anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-’Ankabuut: 8)

(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

Maka barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.”

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak,

إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك

“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’”

Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.


Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.”

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya . Adapun penyebutan “doa” dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya , tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shaleh agar orang tuanya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Qs. an-Najm: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.”

Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya.”

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni



 MAMA,IBU,EMA.......

Kumerambah berjalan merangkak,
kakiku terseok-seok...kutarik..kukuatkan...
mama,aku menyebutmu sbagai pewaris sipat RahimNya,
kala kumemanggilmu...tiada kau menjawabku,
saat kupeluk dirimu...hanya bayang kehampaan yang terengkuh..
dimana kau mamaku...

Kumenjerit memanggil nama lain..IBU.....
tidakkah kau mendengar tangisanku yang rindu sipat kasih sayangmu??/
kuterus memenggilmu...
tetap kau tiada menjawabku,
kemanakah Ibuku???

Aku lelah mama...aku letih Ibu...
aku bosan bergelut dalam kehampaan fatamorgana,
aku rindu belai kasihsayangmu...aku rindu nasihatmu
aku kangen kehangatan bentakan cegahanmu...
atau haruskah aku yang menasihatimu   ema...

By;kamaradanu maret 2011 to para IBU
»»  Baca Selengkapnya...

nasihat para ibu

Mengabaikan Nasihat Ibu 

Diceritakan ada seorang abid terkenal dengan sifatnya yang mulia. Pada suatu hari ia pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah. Namun, kepergiannya tidak mendapat restu ibunya, serta tidak direlakan. Tapi, ia tetap nekat pergi tanpa mempedulikan larangan ibunya.

Dari belakang ibunya mengikuti sambil berdoa: "Wahai Tuhanku, anakku telah membakarku dengan api perpisahan. Maka timpakanlah kepadanya suatu siksaan!" Sang ibu merendahkan diri dan bermunajat kepada Allah SWT.

Ketika si abid tersebut tiba di sebuah kota di waktu malam, maka ia masuk ke dalam masjid untuk melakukan ibadah. Bertepatan pada malam itu, ada pencuri yang masuk ke sebuah rumah di dusun tersebut. Pemilik rumah mengetahui bahwa pencuri berada di dalam rumahnya yang bermaksud mengambil barang-barang. Kontan saja, pemilik rumah berteriak, dan kemudian orang kampung mengejarnya, sehingga pencuri lari dan menuju ke arah masjid.

Sewaktu mereka sudah sampai di muka masjid, pencuri menghilang. Lalu orang kampung pun berteriak: "Pencurinya di dalam masjid!" Kemudian mereka masuk ke dalam masjid, dan melihat si Abid tadi yang sedang berdiri mengerjakan shalat. Pada saat itu juga mereka menangkap si Abid dan menggiringnya untuk diserahkan kepada yang petugas pemerintah.

Lantas penguasa kota memerintahkan agar kedua tangan si Abid dipotong, termasuk kedua kakinya, begitu juga kedua matanya harus dikeluarkan. Petugas negara itu kemudian melaksanakan perintah, dan segera memotong kedua tangan dan kedua kaki si Abid, serta mengeluarkan kedua buah matanya seraya berseru di pasar: "Inilah balasan orang yang mencuri…..!"

Si Abid berkata: "Janganlah kalian mengatakan seperti itu, tapi katakanlah: "Ini adalah balasan orang yang bermaksud thawaf ke Makkah, tanpa restu ibunya…..!"

Ketika mereka mengetahui bahwa ia seorang yang alim dan akan menunaikan ibadah ke Makkah, maka mereka sama menangis sedih penuh penyesalan, lalu mengembalikan si Abid kepada ibunya, serta diletakkan pada pintu tempat ibadah.

Ternyata di dalam sudah ada ibunya, yang sedang berdoa: "Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau telah memberikan cobaan kepada anakku dengan satu ujian musibah, maka kembalikanlah ia kepadaku sehingga aku bisa melihatnya!"

Tiba-tiba si ibu mendengar suara dari luar rumah. "Saya adalah musafir yang lapar, berilah aku makan!" kata si Abid.

"Datanglah engkau ke pintu!" jawab si ibu.

"Saya tidak punya kaki untuk berjalan kepada engkau,'' kata si Abid.

''Ulurkan tanganmu!" kata ibunya. "Saya tidak punya tangan,'' jawab si Abid.

"Kalau aku memberi makan kepadamu, maka terjadilah perbuatan haram antara saya denganmu,'' sahut ibunya. "Jangan takut, karena saya sudah tidak mempunyai mata."

Maka sang ibu mengambil sopotong roti dan air yang dingin dari kendi, lalu diberikan kepadanya. Ketika si Abid menyadari bahwa perempuan itu ibunya, maka ia meletakkan wajahnya pada telapak kaki ibunya sambil berkata: "Saya adalah anak ibu yang durhaka…!"

Seketika itu ibunya amat terkejut, setelah mengetahui kondisi anaknya yang sudah tidak mempunyai tangan dan kaki, serta kedua matanya juga tidak ada, si ibu menangis seraya berkata: "Wahai Tuhanku, kalau keadaan kami seperti ini, maka cabutlah ruhku dan ruh anakku, sehingga orang-orang tidak mengetahui aib yang kami derita!" Belum sampai sempurna perkataan perempuan itu, maka ruh keduanya pun melayang.
Sumber: masjidjami.com

 

»»  Baca Selengkapnya...

kitab Al-Hikam = mutiara hikmah ibadah


Disusun Oleh Al-Faqir K.Komarudin

KITAB AL-HIKAM DAN URAIAN SINGKAT

Alhamdulillah segala puji hanya bagi Alloh yang tetap menempatkan kita sebagai orang yang beriman dan memegang teguh ajaran manusia pilihan-Muhammad Saw-sebagai penyempurna akhlak manusia agar menjadi insan-insan kamil.
Solawat dan salam selalu tercurah kepada Baginda Nabi Besar Muhamad Saw sebagai penutup para Nabi dan Rosul walau orang-orang murtad mengingkarinya.
Salam Hormat dan takjim Al-Faqir kepada seluruh para Alim 'Ulama,para Guru,para sahabat dan seluruh kaum Muslimin/at yang menjalankan tugas sebagai Kholifatulloh dimuka bumi.{amma bakdu};

Al-Faqir [K.Komarudin] selaku insan yang dhoif mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada banyak kekurangan dalam menterjemahkan {dan sekilas menguraikan} Kitab 'Ulama termasyhur akan kearifannya tentang ilmu hakikat makrifat yaitu Tuan Seikh Ibnu 'Atho'illah Rhm.Biridho'illahi ta'ala Al-Fatihah............1 x

Berikut ini adalah urain { sebagai bahan rujukan atau } penjelasan Kitab Al-Hikam karya seorang 'Ulama Besar yaitu Seikhul Islam Al-Imam Al-Muhaqqik Al-Arif Billah "Abil Fadhil Ahmad bin Muhammad bin 'Abdul Karim bin 'Atho'illah As-Sakandary Rohimahullahu 'alaihi {Rhm}.

Didalam Kitab Al-Hikam ini Mushonif/pengarang akan menerangkan atas 300 bait hikmah yaitu susunan bahasa yang berguna bagi yang menjelaskan tentang adab dan akhlak yang terpuji yang menjadi wasilah mendapatkan kemulyaan dan derajat yang luhur didunia dan akhirat.Maka siapapun orang yang ucapan dan tindakan serta i'tikad dalam hatinya sesuai dengan isi Kitab ini,orang itu disebut  sebagai Hukama atau ahli Hikmah yang sebenarnya sehingga ucapannya "yatarokkabu minal maqooli wal haali wayakuunu mimman yanhaddho haaluhuu wayadullu 'alalloohi " artinya  ' mufakat/sesuai antara ucapan dan perbuatannya yang membawa semangat  dalam mnuju mendekatkan diri kepada Allah SWT yaitu taqwa ilallooh.

Sebelum mulai menjelaskan Hikmah yang pertama,perlu diketahui terlebih dahulu definisi Kitab Al-Hikam ini { yang berisi tentang ajaran Tasauf }.

= Definisinya ilmu Tasauf ; ilmu pengetahuan yang mengetahui berbagai maca tingkah napsu dan sipat napsu  yang terpuji atau tercela.

= Maudhu'nya ; Watak napsu yang terpuji atau tercela.

= Buahnya Tasauf ; bisa membersihkan hati dari kotoran-kotoran dan yang mrusak hati,srta bisa menghiasi dengan musyahadah { brsaksi/menyaksikan } atas Dzat Al-Malikul Goffaar yaitu Dzat Allah 'Azza Wa Jalla.

= Dasar hukumnya ; Al-Qur'an,Sunnah Rosulullah Saw dan dari hidayah petunjuk para 'Ulama Sholeh yang Ahli Makrifat { mengenal Allah dengan sebenarnya } .
= Yang mengadakannya : Baginda Nabi Besar Muhammad Saw dengan perjalanan wahyu dan ilham  kemudian dibukukan  dan diterangkan oleh para  Ahli Makrifat.

= Keutamaanya ; Dapat mengungguli dari berbagai macam disiplin ilmu yang lain sebab melihat atas pentingnya ilmu Tasauf dan faedahnya bagi hati/bathin/rohani/jiwa.Pentingnya ilmu Tasauf bagi hati/bathin seperti pentingnya ilmu Fiqih untuk ibadah lahir/jasmani.


= Hukum Belajar Tasauf ; Fardu 'ain bagi setiap muslim yang sudah akil baligh,sebab tiada satupun orang yang terlepas dari aib dan keburukan hatinya kecuali para Nabi dan Rosul 'Alaihimus Salam.

Sehingga Al-Imam Abil Hasan As-Sadzili Rhm wa Qoddasalloohu sirruh menyatakan,;

" Barang siapa orang yang tidak pernah masuk { mempelajari,memahami dan mengamalkan } ilmu Tasauf,maka ia akan mati dalam keadaan membawa dosa besar sedangkan dirinya tidak mengetahui ".

Sebagaimana ilmu fiqih diwajibkan untuk kemaslahatan ibadah lahiriah,demikian pula halnya ilmu Tasauf diwajibkan untuk kemaslahatan ibadah bathiniah/hati. 

Maka karena ilmu Tasauf menjadi natijah {kesimpulan } dari segala macam ibadah yang sohih yang menjadi buahnya ahwal yang bersih yang timbul dari pengamalan ilmu yang telah diwariskan Allah SWT kepada Pengarang Kitab ini,maka Pengarang Kitab Al-Hikam memulainya dengan Hikmah yang pertama ;

1.CIRI ORANG YANG BERSANDAR KEPADA AMAL USAHANYA
 [Min 'alaamatil 'iktimaadu 'alal 'amali = Nuqshoonur rojaa-i 'inda wujuudizd zdulali]. 

    Artinya ; " Sebagian tanda/ciri kurangnya mengharap rahmat Allah ketika terjadi suatu kesalahan adalah karena bergantung kepada amal-amal ibadah".
   Maksudnya hikmah -1-  a/l sebagai berikut ; 
-Orang jahil yang lalai { jahilin ghofilin } biasanya suka menyandarkan dirinya keselain Allah SWT.Mereka berpedoman kepada kepangkatan,harta-benda,keturunan atau yang lainnya.Orang yang demikian adalah sejahil-jahilnya manusia.Adapun yang termasuk ringan adalah golongan manusia yang bergantung kepada ilmu pengetahuannya atau kepada amal usahanya.Orang kedua inipun termasuk orang yang bodoh serta tercela.
-Seharusnya setiap manusia hanya bergantung kepada Allah,menyandarkan dirinya kepada Allah.Sehingga ia akan biasa merasakan dirrinya itu "tiada daya dan tak punya upaya kecuali atas ijin Allah,atas pertolongan Allah semata-mata " sebagai realisasi dari kalimat lahaula wala quwwata illa billahil aliyil 'azhim.
-Pada hikmah yang pertama  ini Seikh Ahmad 'Atho'illah Rhm menjelaskan ciri-ciri orang yang menyandarkan dirinya kepada amal usahanya bukan menyandarkan diri kepada rahmat Allah SWT yang serba Maha.Maka tatkala terjadi suatu musibah seperti melakukan suatu kealahan atau dosa,orang tersebut lupa kepada rahmat-Nya karena ia bergantung/bersandar kepada amal usahanya atau amal ibadahnya.Sementara orang-orang Ahli Makrifat yang sempurna Tauhidnya,mereka merasa bahwa dirinya dekat engan Allah  serta Mata hatinya melihat bahwa dirinya tengah digerakkan oleh Allah { hati-hati dalam memahami keterangan ini,penjelasan disini jauh berbeda dengan faham jabariah atau faham Wahdatul Wujud atau faha sesat lainnya } sehingga Ahli Makrifat selalu merasakan akan lahaula wala quwwata illa billah....
-Maka apabila mereka tengah berada dalam goflah/lalai atau maksiat,mereka segera bertaubat dan menangis sekaligus merasakan ketidak berdayaan sebagai hamba Allah yang dhoif.Dalam situasi seperti itu mereka merasakan bahwa mereka berada dalam sifat Qohar Allah.
-Sebaliknya,ketika mereka { Ahli Makrifat } tengah berada dalam situasi taqwa/beribadah kepada Allah mereka merasa bahwa mampunya berbuat taqwa/ibadah itu semata-mata atas ijin-Nya dan bukan atas kuasa diri pribadi sehingga jauh dari takabur dan ria.Orang seperti tersebut adalah orang-orang yang sudah berada dalam tataran/tingkat napsunya napsu Muthma'innah yaitu napsu yang tenang tentram walau dalam situasi kondisi seperti apapun.
-Mereka yang telah menempati napsu Muthma'innah adalah manusia Mukmin Muslim yang selalu merasakan akan Sifat Qudrot Irodat Allah Swt.Mereka telah berada dalam lautan Tauhid yang sempurna sehingga selalu Khouf { takut kepada Allah } dan Roja' { mengharap Rahmat Allah } dalam setiap desah napa dan dalam setiap detak jantungnya.
-Sedangkan orang yang bukan Ahli Makrifat,mereka selalu bersandar/mengandalkan kepada segala sesuatu selain Allah seperti kepada harta,tahta,wiridan,sodaqoh,karyawan atau ilmu dan amal usahanya maupun ibadahnya. Oleh sebab mereka bersandar kepada yang tersebut,maka Allah akan menutup/menghizab pintu masuk kehadirat Allah SWT.Dengan demikian siapapun yang masih berada dalam alam jahiliah tersebut,segeralah merubah sikap dan memperbaiki hati agar terbuka jalan sampai kehadirat Al-Haq. Wallahu 'a-lam




»»  Baca Selengkapnya...

kisah sukses orang-orang disekitar kita

Oprah Winfrey


Keberanian “Menjadi Diri Sendiri”, Oprah menjadi presenter paling populer di Amerika dan menjadi wanita selebritis terkaya versi majalah Forbes, dengan kekayaan lebih dari US $ 1 Milyar. Copy acara “The Oprah Winfrey Show” telah diputar di hampir seluruh penjuru bumi ini.
TAHUKAH ANDA?
Lahir di Mississisipi dari pasangan Afro-Amerika dengan nama Oprah Gail Winfrey. Ayahnya mantan serdadu yang kemudian menjadi tukang cukur, sedang ibunya seorang pembantu rumah tangga. Karena keduanya berpisah maka Oprah kecil pun diasuh oleh neneknya di dilingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Luarbiasanya, di usia 3 tahun Oprah telah dapat membaca Injil dengan keras.

“Membaca adalah gerai untuk mengenal dunia” katanya dalam suatu wawancaranya.
Pada usia 9 tahun, Oprah mengalami pelecehan sexual, dia diperkosa oleh saudara sepupu ibunya beserta teman-temannya dan terjadi berulang kali. Di usia 13 tahun Oprah harus menerima kenyataan hamil dan melahirkan, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan.
Setelah kejadian itu, Oprah lari ke rumah ayahnya di Nashville. Ayahnya mendidik dengan sangat keras dan disiplin tinggi. Dia diwajibkan membaca buku dan membuat ringkasannya setiap pekan. Walaupun tertekan berat, namun kelak disadari bahwa didikan keras inilah yang menjadikannya sebagai wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi.
Prestasinya sebagai siswi teladan di SMA membawanya terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih. Beasiswa pun di dapat saat memasuki jenjang perguruan tinggi. Oprah pernah memenangkan kontes kecantikan, dan saat itulah pertama kali dia menjadi sorotan publik..
Karirnya dimulai sebagai penyiar radio lokal saat di bangku SMA. Karir di dunia TV di bangun diusia 19 tahun. Dia menjadi wanita negro pertama dan termuda sebagai pembaca berita stasiun TV lokal tersebut. Oprah memulai debut talkshow TVnya dalam acara People Are Talking. Dan keputusannya untuk pindah ke Chicago lah yang akhirnya membawa Oprah ke puncak karirnya. The Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!
Latar belakang kehidupannya yang miskin, rawan kejahatan dan diskriminatif mengusik hatinya untuk berupaya membantu sesama. Tayangan acaranya di telivisi selalu sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas dan pendidikan. Oprah sadar, bila dia bisa mengajak seluruh pemirsa telivisi, maka bersama, akan mudah mewujudkan segala impiannya demi membantu mereka yang tertindas.
Oprah juga dikenal dengan kedermawanannya. Berbagai yayasan telah disantuni, antara lain, rumah sakit dan lembaga riset penderita AIDs, berbagai sekolah, penderita ketergantungan, penderita cacat dan banyak lagi.

Dan yang terakhir, pada 2 januari 2007 lalu, Oprah menghadiri peresmian sekolah khusus anak-anak perempuan di kota Henley-on-Klip, di luar Johannesburg, Afrika selatan, yang didirikannya bersama dengan pemirsa acara televisinya. Oprah menyisihkan 20 juta pounsterling ( 1 pons kira2 rp. 17.000,- )atau 340 milyiar rupiah dari kekayaannya. “Dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak2 perempuan ini, kita akan memulai mengubah bangsa ini” ujarnya berharap.


Kisah Oprah Winfrey ialah kisah seorang anak manusia yang tidak mau meratapi nasib. Dia berjuang keras untuk keberhasilan hidupnya, dan dia berhasil. Dia punya mental baja dan mampu mengubah nasib, dari kehidupan nestapa menjadi manusia sukses yang punya karakter. Semangat perjuangannya pantas kita teladani!
======================================================================

           



 


»»  Baca Selengkapnya...

kisah seikh abdur rouf singkil aceh

Syaikh Abdur Rauf al-Fansuri as-Singkili

Bismillahir Rahmaniir Rahiim

Gambar Sheikh Abdur Rauf al-Fansuri as-Singkili atau dikenali Teuku
Syiah Kuala guru kepada Tok Pulau Manis dan Tok Sheikh Ulakan
SYAIKH ABDUR RAUF FANSURI pentafsir al-Quran pertama dalam bahasa Melayu
MENGENAI ulama ini sangat banyak ditulis orang, namun tulisan ini terlebih dahulu mengemukakan kelainan penulisan yang bersumber daripada orientalis yang diikuti oleh hampir semua penulis dunia Melayu, iaitu tentang namanya yang dikemukakan sebagai Abdur Rauf Singkil atau al-Sinkili. Walhal daripada Syeikh Abdur Rauf sendiri belum ditemui penambahan perkataan Sinkili di hujung namanya, yang ada hanyalah ‘al-Fanshuri’.
Penambahan nama ‘al-Fanshuri’ bukan ‘as-Sinkili’ di hujung nama untuk Syeikh Abdur Rauf bin Ali yang tersebut dilanjutkan oleh semua ulama Melayu, yang dimulai oleh muridnya Baba Daud bin Ismail ar-Rumi ketika beliau menyelesaikan Turjumanul Mustafid atau Tafsir al-Baidhawi, demikian juga pada salasilah Tarekat Syathariyah dan Tarekat Qadiriyahnya.

Hal yang sama dilanjutkan pula oleh murid Baba Daud bin Ismail ar-Rumi bernama Syeikh Faqih Jalaluddin bin Kamaluddin al-Asyi dalam Manzharul Ajlanya. Malahan juga sama dengan yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin al-Asyi di dalam Bidayatul Hidayahnya. Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalush Shafi juga menyebut nama Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri.
Demikian halnya dengan Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani di dalam Siyarus Salikin. Demikian halnya dengan Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani di dalam Aqidatun Najin dan juga Syeikh Ahmad al-Fathani pada kenyataannya sewaktu mentashhih kitab Turjumanul Mustafid/Tafsir al-Baidhawi.
Barangkali tulisan terawal di kalangan ulama yang menyebut ulama ini berasal dari Singkel ialah Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani dalam karyanya berjudul Mukhtashar Tashnif Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri. Di antara tulisannya, “… dan berkata orang yang arif, iaitu Syeikh Abdur Rauf anak Ali, Singkil nama negerinya”.

Pada halaman terakhir manuskrip tertulis, “Ini kami mengambil risalah ini karangan Syaikhu Masyaikh segala Jawi Syeikh Abdur Rauf Aceh, Singkil nama kampungnya ….”
Namun dalam tulisan ini, penulis tetap mengikut tulisan ulama-ulama kita, iaitu menyebut nama lengkapnya Syeikh Aminuddin Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri. Nama Aminuddin yang biasa dipakai pada awal namanya, namun jika dihilangkan tidaklah cacat kerena untuk memendekkan kalimat.

ASAL USUL DAN PENDIDIKAN

Menurut pendapat A. Hasymi, ada dua orang ulama yang bersaudara keturunan Parsi, iaitu Ali al-Fansuri dan Hamzah al-Fansuri. Datuk nenek kedua-duanya diberi kepercayaan oleh kerajaan memimpin pusat pendidikan yang bernama Daya Blang Pria. Ulama tersebut bernama Syeikh al-Fansuri.
Bahawa pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Said Mukammil, 997-1011 H/1589-1604 M, dua orang keturunan Syeikh al-Fansuri itu mendirikan dua pusat pendidikan Islam di pantai barat Tanah Aceh, iaitu Syeikh Ali al-Fansuri mendirikan Dayah Lipat Kajang di Simpang Kanan. Adiknya Syeikh Hamzah al-Fansuri mendirikan Dayah Obah di Simpang Kiri Rundeng.
Pada 1001H/1592M, Syeikh Ali al-Fansuri dikurniakan seorang putera yang diberi nama Abdur Rauf. Ada pendapat lain menyebut bahawa Abdur Rauf lahir dalam tahun 1024H/1615M. Pendapat tersebut berbeza dengan pendapat Dada Meuraxa, menurutnya Abdur Rauf lahir di Singkel (Aceh Selatan), ibunya berasal dari Barus. Katanya, dalam sejarah abad ke-16 terdapat dua ulama yang serupa namanya, Syeikh Abdur Rauf dari Singkel dan Syeikh Abdur Rauf dari Barus.
Hamka dalam bukunya yang bercorak menyerang Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan berjudul Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao telah memansuhkan pendapatnya sendiri yang sebelumnya mengatakan bahawa yang bernama Syeikh Abdur Rauf itu adalah dua, dalam buku tersebut beliau mengatakan hanya seorang.

Walau bagaimana pun kalimat di bawah ini mencerminkan bahawa beliau masih belum tahqiq atau ragu-ragu. Katanya, “Tetapi saya akan kembali pula mengatakan dua kalau ada orang yang dapat mengemukakan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan”.
Pendapat Dada Meuraxa dan Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan yang menyebut Syeikh Abdur Rauf ada dua orang disokong kuat oleh Abdullah Abbas Nasution dalam bukunya Sejarah Islam Sedunia 14 Abad Silam.

Dengan bersyukur kepada Allah, penulis menemukan bukti bahawa di Aceh pada zaman yang sama memang terdapat dua orang yang bernama Syeikh Abdur Rauf. Penulis juga menemukan sebuah manuskrip berjudul Durratun Nakhirah Tanbihan li Durril Fakhirah karya Syeikh Sirajuddin bin Jalaluddin yang diselesaikan pada 1238 H/1822 M. Di dalam kitab tersebut diceritakan dua orang yang bernama Abdur Rauf, iaitu yang seorang Abdur Rauf saja dan yang seorang lagi Abdur Rauf Hitam.
Menurut jalan cerita kitab itu, yang Abdur Rauf saja iaitulah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Kedua-dua Abdur Rauf itu menerima wasiat daripada Syeikh Muhammad az-Zainusy Syakhiyah sewaktu mereka masuk ke dalam kubah Syeikh Syazili di Mokha.

Jadi berdasarkan kepada kitab yang tersebut bererti Syeikh Abdur Rauf memang ada dua orang. Walaupun dalam kitab tersebut tidak memberi maklumat secara jelas bahawa mereka berasal dari Aceh, namun secara logiknya dapat diterima bahawa mereka memang datang dari negeri yang sama.
Secara umumnya, mereka sama-sama berasal dari Sumatera. Penulis tidak bermaksud mencampuri pertikaian-pertikaian pendapat yang tersebut, tetapi dua orang yang bernama Abdur Rauf itu, penulis ungkapkan adalah menceritakan suatu penemuan penulis yang terbaru. Sekaligus adalah merupakan jawaban terhadap tulisan Almarhum Buya Hamka yang masih mencari-cari tentang Syeikh Abdur Rauf satu atau dua orang itu.

Syeikh Abdur Rauf Hitam tidak dibicarakan dengan panjang di sini, yang dibicarakan ialah Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, penyusun Turjumanul Mustafid iaitulah terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu.
Hampir semua karya beliau sudah penulis pegang dan baca, baik yang manuskrip mahupun cetakan. Ada pun karya ulama bernama Syeikh Abdur Rauf Hitam belum lagi penulis menemuinya. Oleh itu tidak perlu dibicarakan mengenai beliau dalam artikel ini.

Mengenai para gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri mencatatkan dalam karyanya, Umdatul Muhtajin, secara keseluruhannya, termasuk salasilah Tarekat Syathariyah dan Tarekat Qadiriyah, telah penulis tulis dalam buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara jilid 1. Namun begitu, baik pada manuskrip ‘Umdatul Muhtajin mahupun Kifayatul Muhtajin koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) terdapat ketinggalan beberapa nama jika dibandingkan dengan salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.
Pada salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, tidak tersebut nama Syeikh Abdullah asy-Syathari. Seharusnya guru Imam Qadi Syathari ialah Syeikh Abdullah asy-Syathari, dan guru Syeikh Abdullah asy-Syathari ialah Syeikh Muhammad Arif. Demikian menurut salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Pada salasilah Tarekat Syathariyah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri langsung saja sesudah Syeikh Qadi Syathari berguru kepada Syeikh Muhammad Arif.
Orang-orang anti tarekat selalu berpendapat bahawa salasilah tarekat ada yang terputus-putus artinya seseorang guru tarekat meninggal dunia, muridnya pula belum lahir. Hal ini berlaku seperti Syeikh Hasan al-Kharqani tidak pernah berjumpa dengan Abi Yazid al-Bistami. Demikian juga Abi Yazid al-Bistami tidak pernah berjumpa dengan Imam Ja’far Shadiq.

Pandangan yang keliru dan salah itu perlu dijawab, jawabannya ialah bahwa kedua-dua tempat pada salasilah itu tidak terputus, dengan hujah-hujah sebagai yang berikut, bahawa yang tersebut ini memang ada golongan tarekat yang lebih suka menyebut bahawa penerimaan itu adalah secara rohaniah.
Namun secara arif, pengkaji-pengkaji dan pengamal-pengamal tarekat mempunyai hujah-hujah lain, iaitu sebenarnya Syeikh Hasan al-Kharqani sebelum menerima secara rohaniah daripada Syeikh Abi Yazid al-Bistami. Beliau terlebih dahulu belajar dengan Syeikh Abi Muzhaffar at-Thusi. Syeikh Abi Muzhaffar at-Thusi belajar pula kepada Khawajah Abi Yazid al-Asyqi. Khawajah Abi Yazid al-Asyqi belajar kepada Muhammad al-Maghribi. Khawajah Muhammad al-Maghribi inilah yang sebenarnya menerima tawajuh tarekat daripada Syeikh Abi Yazid al-Bistami.

Adapun perantaraan Syeikh Abi Yazid al-Bistami dengan Imam Ja’tar Shadiq pula, ialah Syeikh Abi Yazid al-Bistami berguru kepada Imam Ali Ridha. Imam Ali Ridha belajar kepada ayahnya Imam Musa al-Kazhim, Imam Musa al-Kazhim belajar pula kepada ayahnya Imam Ja’far as-Shadiq.
Dengan keterangan di atas tidak ragu lagi bahawa tarekat-tarekat yang diterima oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri dari guru-gurunya selama berada di Mekah, Madinah dan Timur Tengah adalah sah ditinjau dari segi salasilah menurut istilah tasauf atau sanad dalam ilmu hadis.
Dari keseluruhan gurunya yang cukup ramai, yang paling banyak beliau sebut ialah Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani.

MURID-MURID DAN KETURUNAN

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri sangat ramai, tetapi yang dapat dipastikan ada beberapa ulama besar yang sangat terkenal menyebarkan Islam di beberapa tempat di seluruh dunia Melayu. Antara mereka ialah, Baba Daud bin Agha Ismail bin Agha Mustata al-Jawi ar-Rumi. Beliau ini berasal daripada keturunan ulama Rom yang berpindah ke Turki, keturunannya pula pindah ke Aceh sehingga menjadi ulama yang tersebut ini. Keturunan beliau pula ada yang berpindah ke Pattani, sehingga menurunkan ulama terkenal iaitu Syeikh Daud bin Ismail al-Fathani.

Setelah berkhidmat di Mekah dikirim oleh saudara sepupu dan gurunya Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani ke Kota Bharu, Kelantan untuk memimpin Matba’ah al-Miriyah al-Kainah al-Kalantaniyah. Lalu beliau berpindah ke Kota Bharu, Kelantan, beliau dikenal dengan gelaran ‘Tok Daud Katib’.
Ada pun Baba Daud bin Ismail al-Jawi ar-Rumi di atas beliau inilah yang menyempurnakan karya gurunya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang berjudul Turjumanul al-Mutafid atau yang lebih terkenal dengan Tafsir al-Baidhawi Melayu, iaitu terjemah dan tafsir al-Quran 30 juzuk yang pertama dalam bahasa Melayu.
Naskhah asli tulisan tangan Baba Daud bin Ismail al-Jawi ar-Rumi itu dimiliki oleh keturunannya Tok Daud Katib, lalu naskhah itu diserahkan kepada guru dan saudara sepupunya Syeikh Ahmad al-Fathani.

Dari naskhah yang asli itulah diproses oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Daud bin Ismail al-Fathani dan Syeikh Idris bin Husein Kelantan sehingga terjadi cetakan pertama di Turki, di Mekah dan Mesir pada peringkat awal. Nama ketiga-tiga ulama itu yang dinyatakan sebagai Mushahhih (Pentashhih) pada setiap cetakan tafsir itu kekal diletakkan di halaman terakhir pada semua cetakan tafsir itu.
Turjumanul Mustafid yang diterbitkan sampai sekarang adalah merupakan lanjutan daripada cetakan yang dilakukan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani dan dua orang muridnya itu (keterangan lanjut mengenai ini lihat buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, jilid 1, 1990:157-172).

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang lain pula ialah Syeikh Burhanuddin Ulakan. Beliau inilah yang disebut sebagai orang yang pertama sebagai penyebar Islam di Minangkabau (Sumatera Barat) melalui kaedah pengajaran Tarekat Syathariyah.
Di Jawa Barat, Indonesia terkenal seorang murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang dianggap sebagai seorang Wali Allah. Beliau ialah Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sepanjang catatan sejarah, beliau dianggap orang pertama membawa Tarekat Syathariyah ke Jawa Barat dan selanjutnya berkembang hingga ke seluruh tanah Jawa.

Adapun mengenai Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi yang berasal dari tanah Bugis ada riwayat menyebut bahawa beliau juga murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Riwayat lain menyebut bahawa Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi itu adalah sahabat Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, sama-sama belajar kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani.
Walau bagaimanapun, selembar salasilah yang ada pada penulis, yang ditemui di Kalimantan Barat, menyebut Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi menerima Tarekat Syathariyah kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu. Memang diakui bahawa Syeikh Yusuf Tajul Mankatsi ialah orang pertama menyebarkan Tarekat Syathariyah di Tanah Bugis atau seluruh Sulawesi Selatan.

Bahkan dianggap juga beliau sebagai orang pertama menyebarkan pelbagai tarekat lainnya, di antaranya Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Tetapi berdasarkan manuskrip Mukhtashar Tashnif Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fanshuri oleh Syeikh Abdur Rauf bin Makhalid Khali-fah al-Qadiri al-Bantani bahawa Syeikh Yusuf al-Mankatsi adalah cucu murid kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, tertulis, “… kerana kata ini daripada Syeikh Yusuf (al-Mankatsi/al-Maqasari) turun daripada Syeikh Muhyuddin Karang (Pamijahan), turun daripada Syeikh Abdur Rauf al-Asyi”.

Murid Syeikh Abdur Rauf bin Alial-Fansuri di Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia) pula, yang paling terkenal ialah Syeikh Abdul Malik bin Abdullah Terengganu atau lebih popular dengan gelar Tok Pulau Manis yang mengarang berbagai-bagai kitab di antaranya Kitab Kifayah.’
Ada yang meriwayatkan bahawa Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathanipernah belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Tetapi dalam penelitian penulis tidaklah demikian. Yang betul ialah ayah Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok itu, iaitu Syeikh Abdul Mubin bin Jailan al-Fathani dipercayai adalah sahabat Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri kerana sama-sama belajar kepada Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani. Sebagai pengenalan awal penyelidikan murid-murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di sini setakat ini dulu dan penyelidikan lanjut masih sedang dijalankan.

KARYA-KARYA

Syeikh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri termasuk dalam golongan ulama dunia Melayu yang produktif dalam bidang karangan dalam bahasa Melayu. Karya beliau telah penulis senaraikan dalam buku Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara, jilid 1, sebanyak 25 buah.
Setelah buku tersebut diterbitkan, diketahui pula karya beliau yang belum termasuk dalam senarai yang tersebut. Karya-karya tersebut ialah: Aghmadhus Sail. Kitab ini baru ditemui hanya sebuah saja, iaitu yang diamanahkan kepada Muzium Islam Pusat Islam Kuala Lumpur. Kandungan kitab ini mengenai ilmu tauhid. Judul yang lain juga baru diketahui pula ialah Kanzul Insaniyi, telah menjadi koleksi Pusat Manuskrip Melayu PNM, nombor kelas MS1530.

Karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang baru menjadi koleksi Pusat Manuskrip Melayu PNM pula ialah Durratul Baidha’ Tanbihan lin Nisa’ nombor kelas MS 1625.
Oleh itu, terdapat tiga karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang baru diketahui, dengan disebutkan tiga buah kitab yang tersebut bererti ada 27 buah karya beliau yang telah dikenalpasti kerana Hujjatul Balighah ternyata bukan karya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, judul itu terpaksa digugurkan dari senarai yang telah lalu.

PENUTUP

Demikianlah satu tinjauan mengenai Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri ulama Asia Tenggara yang berasal dari Aceh Selatan atau menurut pendapat yang lain berasal dari Mandailing (daerah Batak) yang telah menggunakan masa hidup mulai tahun 1001/1592 M.
Namun menurut pendapat lain 1024H/1615 M, dan juga ada pendapat lain mengatakan 1620 M, hingga wafat tahun 1693 M. Setelah wafat lebih terkenal dengan sebutan Teuku Syiah Kuala.
==================================================== 


»»  Baca Selengkapnya...

5 kumpulan puisi kamaradanu

KEARIFAN...DIMANAKAH???

Sampah berserakan dihadapanku..tapi itu adalah rijkiku,
Bau menyengat menusuk hidungku..tapi itulah hidupku
lalat hijau mengelilingiku...tapi itulah sahabatku
bakteri meyapaku slalu...tapi itulah kawan terbaikku
Sampah adalah hidupku

Saat aku lelah dalam pencarian..
kutatap tumpukan bau menggunung dengan sejuta tanya
kutanya tumpukan itu... siapa aku?
kutanya ia dimana bumiku?
kutanya siapa pemimpinku?
aku trus bertanya padanya...ia balik bicara padaku...??

Sampahku dengan bijak bertutur padaku,
kau adalah hamba penciptaku
kau berada dibumi Penciptaku
kau dipimpin oleh hati nuranimu
kau adalah manusia yg sama derajat dengan manusia lain..
kau..MANUSIA


jangan kausedih kerana profesimu,
jangan mengeluh kerana nasibmu,
tak usah kau minder disebabkan baumu,
tak usah kau menangis kerana ini...
menangislah jika kau tak memahami apa itu"kearifan..."

By;Kamaradanu didedikasikan utk sdr'ku para pemulung dan petugas kebersihan-14 mart 2011
============================================

SELAYANG TENTANG MAKNA HIDUP 
                               

serona wajah tenang menerawang jauh...jauh..jauh 
bibir menyunggingkan senyum kehampaan
dadanya bergetar...
jantungnya berdebar....
sejuta tanya menggelayuti alam pikirannya

apakah hakikat hidup ini?.........
apakah makna hidup ini?..... 
APA TUJUAN HIDUP INI?.......
apa yang aku cari?.........
apa yang aku tunggu?.......
apa dan apa............?

By;Kamaradanu untuk diri yang dititipkan diri 16 maret 2011 
 =======================================================


hidup dalam hidup ???????????????????????????????
 
Hidup yang selalu penuh tanda tanya,
Hidup bukan sekedar sandiwara
Hidup bukan hanya makan minum
Hidup sementara dalah bagian yang abadi nanti dan kini
Dunia arena sandiwara masa yang panjang dan pendek

Kau,Aku dan yang lain sama menjalaninya....
keterpukauan akan hidup membuat smua terasa hidup
kendati asa dan rasa jarang menjadi satu kesatuan
kita terus menjalani apa yang kata orang disebut denga....
hidup yang indah tapi sesaat

                                                                            
Kadang kita lelah saat jalan tak terarah
Kadang arah berputar seperti roda bumi
Kadang marah saat menumpuk rasa amarah
Kadang pasrah keetika iman memapah
Kadang...kadang...dan terkadang terhadang pedang

 
By ; Kamaradanu 27 maret 2011



===========================================


Pengembara Yang Hilang...

Saat temaram mulai tiba,kau hadir lagi
Rona itu kembali datang dan bersemayam
Rona yang tiada asing dalam kelam
Seraut wajah dari belahan dunia lain
Mungkinkah dunia selanjutnya
dunia yang belum tersentuh noda dan alfa


 Alam dalam anganku begitu ribuan
Dibaliknya kutemui para pengembara
Mereka bak Sang Rama Yang baru Tiba
namun pergi kembali tanfa rimba
Mereka tiba tanfa adanya pengharapan pasti
Merekaberanjakpun tanfa alasan
Mereka adalah"PARA PENGEMBARA YANG HILANG " 

KUDUDUK DALAM KEHENINGAN RASA
KUSATUKAN JIWA,ASA DAN RAGAKU
KUPUSATKAN PADA YANG SATU yang Hakiki
Kusandarkan punggungku pada'Nya
Kurebahkan jiwaku dipangkuan'Nya
Kuserahkan asaku pada Kuasa'Nya
Dalam keheningan..kubisikan ini pada'nya ;"Pengembara Itu Telah Hilang..." 

Kutersenyum puas pada Irodat'Nya
Kurelakan alamku pada alam'Nya
Ku ikhlaskan..... 
Aku kembali....
Aku Hidup... 
Aku bahagia dalam dirimu.


By ; Kamaradanu 12 April 2001


===================================================
Untuk yang hatinya terdiam
dalam lamunan:

Tuhanku Yang Maha Penyayang,

...Malam ini entah mengapa hatiku
berhenti bercakap dan diam
menatap buram jalur lamunan pikiranku
yang tak tahu apa yang kuinginkan.

Tapi aku ini kekasih kecil-Mu,
dan Engkau Tuhan Yang Maha Sejahtera,
yang sesungguhnya tak membatasi
apa yang bisa kuminta.

Tuhanku, esok pagi gembirakanlah aku
dengan rezeki yang indah.

Aamiin
By ; Mario Teguh

=========================================================




»»  Baca Selengkapnya...

Ucapan Terimakasih Kami

Atas kunjungan dan komentarnya,doa Kami " Jazakallohu khoiro jaza "